
Saya ambil foto ini di pinggir jalan Buncit Raya. Meskipun belum terlalu malam, saya sempatkan untuk menikmati makan malam dengan mie rebus pinggir jalan. Sebuah cekungan lahan yang masih bisa di pakai oleh penjual nasi goreng dan mie rebus. Nongkrong di temaram malam, dengan pendar-pendar lampu jalanan.
Hanya keinginanku tidak bisa aku hentikan. Setiap manusia yang membelakangi terlalu misterius utk tidak aku lewatkan mengcapture-nya. Yang terlihat adalah tubuh dan rambutnya. Seluruh wajah yang menghilang melihat ke depan, memberikan sebuah perpaduan antara hitam malam, temaram lampu, dengan perpaduan misterius yang tidak bs aku tangkap. Ada batas tegas dari apa yang aku pahami saat melihat manusia dari belakang. Kita bertanya-tanya siapakah dia ? Mungkinkah dia nyata untuk pandanganku sekarang. Ataukah kenyataannya adalah nanti saat kita menghadap wajahnya ?
Belakang dan depan menjadi berbeda. Saat kita renungkan keberadaannya. Pemahaman kita menjadi berlainan saat dua hal itu di benturkan bersamaan. Mungkin depan menjadi lebih mungkin, karena setiap wajah-wajah yang kita pandang memberikan rangkaian kebenaran dari sang pribadi manusia tersebut. Tapi siapakah yang mungkin bisa menebak saat kita memandangnya dari belakang. Kita cuma bisa menebak dan meraba-raba akan siapakah si manusia tersebut.
Selamat masuk dalam dunia, yang merupakan misteri terbesar dari hidup manusia.
(difoto di Buncit Raya, memakai kamera Sony Ericsson K770i, 12 November 2009)


















