
Masyarakat sangat mengemari apa yang di namakan “bajakan”. Bajakan adalah mencopi, menjiplak, meniru, kemudian mengedarkannya untuk mendapatkan keuntungan secara finansial darinya. Saya sendiri tidak tahu kapan sebenarnya kegiatan membajak ini mulai di lakukan, yang kemudian merembet masuk ke wilayah Indonesia. Dan kalo di lihat perkembangannya, “membajak” menyumbangkan aktivitas yang begitu besar secara ekonomi di level bawah masyarakat. Tidak percaya ? Cobalah iseng berjalan-jalan di seputaran Jakarta. Anda akan tahu apa itu bisnis ”membajak” ini.
Mulai dari software aplikasi komputer, VCD, DVD, kaset, barang-barang elektronik, dll, di bajak secara terang-terangan. Sangat mudah untuk di kenali, yaitu harganya murah, dengan kemasan sederhana, rentan rusak apabila sepintas di pandang, dan ciri-ciri lain. Penjual pun akan memberikan informasi lengkap apabila di tanya mengenai barang tersebut. Maka bertanyalah, jangan diam. Apabila diam, maka penjual pun akan diam. Menganggap pembeli sudah tahu apa yang akan di beli.
Foto ini saya ambil di stasiun Tebet, pada tanggal 19 Juli 2009. Pedagang VCD musik dan film ini berjualan di sepanjang ruang tunggu untuk penumpang. Jadi tempat jualannya adalah berada pada ruang publik yang sangat terang sekali keberadaannya, yaitu di stasiun kereta. Tetapi karena ini di lakukan di Indonesia, maka di biarkan saja. Saya yakin, di negeri2 barat hal ini tidak akan pernah terjadi, di mana hak cipta sangat di hargai keberadaannya. Mungkin bukan di biarkan begitu saja. Terjadi kompleksitas yang begitu akut sehingga pihak-pihak resmi pun (dalam hal ini pemerintah) sulit untuk meminimalkan pembajakkan ini. Menghilangkannya sepertinya masih sebuah mimpi.
Coba kita bandingkan, misal DVD musik bajakan bisa di dapat dengan harga rp6000. Harga resmi berada di kisaran rp100.000. Perbandingannya adalah 1:16 dari sisi harga, gila besar sekali. Untuk masyarakat dengan pendapatan minim, dan berkeinginan untuk mendapatkan kepuasan juga dari melihat DVD musik, barang bajakan tidak jadi masalah. Tapi bagi para seniman penciptanya, mereka akan menanggis. Yang satu di untungkan, yang satu di rugikan.
alan