Posted by: alan adri | November 13, 2009

misterius tampak belakang

DSC03339

Saya ambil foto ini di pinggir jalan  Buncit Raya. Meskipun belum terlalu malam, saya sempatkan untuk menikmati makan malam dengan mie rebus pinggir jalan. Sebuah cekungan lahan yang masih bisa di pakai oleh penjual nasi goreng dan mie rebus. Nongkrong di temaram malam, dengan pendar-pendar lampu jalanan.

Hanya keinginanku tidak bisa aku hentikan. Setiap manusia yang membelakangi terlalu misterius utk tidak aku lewatkan mengcapture-nya. Yang terlihat adalah tubuh dan rambutnya. Seluruh wajah yang menghilang melihat ke depan, memberikan sebuah perpaduan antara hitam malam, temaram lampu, dengan perpaduan misterius yang tidak bs aku tangkap.  Ada batas tegas dari apa yang aku pahami saat melihat manusia dari belakang. Kita bertanya-tanya siapakah dia ? Mungkinkah dia nyata untuk pandanganku sekarang. Ataukah kenyataannya adalah nanti saat kita menghadap wajahnya ?

Belakang dan depan menjadi berbeda. Saat kita renungkan keberadaannya. Pemahaman kita menjadi berlainan saat dua hal itu di benturkan bersamaan.  Mungkin depan menjadi lebih mungkin, karena setiap wajah-wajah yang kita pandang memberikan rangkaian kebenaran dari sang pribadi manusia tersebut.  Tapi siapakah yang mungkin bisa menebak saat kita memandangnya dari belakang. Kita cuma bisa menebak dan meraba-raba akan siapakah si manusia tersebut.

Selamat masuk dalam dunia, yang merupakan misteri terbesar dari hidup manusia.     

(difoto di Buncit Raya, memakai kamera Sony Ericsson K770i, 12 November 2009)

Posted by: alan adri | November 13, 2009

kaki dan sepatu

apa yang bisa kau fikirkan tetang kaki dan sepatu dari tiap orang yang kau lihat ? Yang menjadi kebiasaan sehari-hari kadang tidak pernah lagi kita perhatikan, bahkan amati. Kita pandang, dan lupakan. Kebiasaan menghilangkan memori kita untuk sedikit berapresiasi. Menjengguk sebentar, bahwa terkandung keunikan yang tidak serta-merta hadir.

Apapun apresiasi pada kaki dan sepatu ini, semoga mengingatkanmu pada hal-hal kecil lainnya. Terlalu penuh sepertinya, keseharian kita dengan segala omelan, komplain, keluh, dan geresah yang tiada berakhir.  Telah menghitamkan otak dan fikiran, dan membunuh kita sedikit demi sedikit.  Ayo kita berpesta dengan keseharian kita.

Ada tabur keunikan yang penuh warna di sana.    

(di foto memakai kamera HP Sony Ericsson K770i di Mega Plaza Kuningan, 29 Oktober 2009)

DSC03327

DSC03330

DSC03329

Posted by: alan adri | October 16, 2009

main ke toko buku

Ada hal yang saya suka, jalan-jalan di toko buku. Hanya, mengenai harga buku-buku baru, minta ampun mahal banget. Bagi budget saya, beli buku baru seperti mencekik leher. Uang yang sama, sebenarnya bisa mendapatkan buku lebih banyak dengan buku bekas, tetapi terbatas utk buku baru.

Tetapi yang saya salut adalah buku lebih beragam. Meskipun tidak setiap buku yang memberikan kesenangan bagi saya tidak begitu banyak, tetapi sepertinya bagi masyarakat, lebih mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan buku-buku berkualitas. Meskipun kudu merogoh kocek lebih banyak dengan masalah harga buku.

Ini foto saya ambil di 6 Oktober 2009, Jakarta.   

DSC03089-2

DSC03090-2

alan

Posted by: alan adri | October 16, 2009

sekedar iseng ke mall

Saya pribadi, sebenarnya tidak terlalu suka berjalan-jalan di pertokoan mall. Hanya apabila ada teman yang mengajak untuk reunian bertemu dengan teman yang lain, ataupun ajakan dari pacar, saya mengiyakan saja. Minimal dari apa yang tidak saya sukai tersebut, saya bisa melihat kembali, di fikirkan, dan semoga mendapatkan sebuah pecerahan lain kenapa saya tidak menyukainya.

Melihat mall-mall di Jakarta, di bangun dengan nuansa modern yang kental dengan glamour. Barang-barang yang di pajang menjadi relative harganya bagi tiap pengunjung (saya terus terang tertarik dengan kata “relative” ini). Tetapi yang pasti, perlu pajak tambahan yang musti di kutip dari tiap barang pajangan yang ingin di jual. Keinginan akhirnya menjadi kebutuhan. Iklan dan promosi yang di lontarkan menjadi sebuah rayuan tersendiri, terkadang kita tidak sadar saat uang terbelanjakan dengan nilai yang besar. Kartu-kartu kredit mempermudah transaksi. Lalu lintas uang terjadi secara maya. Hanya perasaan bagi orang yang terhantui oleh tagihan kartu kredit itu, rasanya tidak menjadi maya lagi.

Orang berduyun-duyun ke mall. Membanjiri mall, sendiri, berkelompok dengan teman sepantaran, atau bersama-sama keluarga. Lorong-lorong menjadi penuh. Orang saling bercakap, dengan dadanan model terbaru di tubuh mereka. Tampilan yang hadir menjadi tampilan kesegaraman kolektif dari gerak tubuh, hingga dadanan, bahkan cara berfikir. Dan saya begitu asingnya di sini.

Ada banyak lagi yang sebenarnya ingin saya ungkapkan. Hanya takut aja ini menjadi komplain-komplain yang menjemukan. Foto-foto ini, tidak merepresentasikan yang saya tulisakan di atas. Hanya melihat mall dari sisi yang bisa saya tangkap. Di foto tanggal 06 Oktober 2009, Jakarta, pakai kamera handphone Sony Ericsson K770i.    

DSC03109-2

DSC03111-3

DSC03112

alan

Posted by: alan adri | October 6, 2009

bajak membajak

 IMG_2971

Masyarakat sangat mengemari apa yang di namakan “bajakan”. Bajakan adalah mencopi, menjiplak, meniru, kemudian mengedarkannya untuk mendapatkan keuntungan secara finansial darinya. Saya sendiri tidak tahu kapan sebenarnya kegiatan membajak ini mulai di lakukan, yang kemudian merembet masuk ke wilayah Indonesia. Dan kalo di lihat perkembangannya, “membajak” menyumbangkan aktivitas yang begitu besar secara ekonomi di level bawah masyarakat. Tidak percaya ? Cobalah iseng berjalan-jalan di seputaran Jakarta. Anda akan tahu apa itu bisnis ”membajak” ini.

Mulai dari software aplikasi komputer, VCD, DVD, kaset, barang-barang elektronik, dll, di bajak secara terang-terangan. Sangat mudah untuk di kenali, yaitu harganya murah, dengan kemasan sederhana, rentan rusak apabila sepintas di pandang, dan ciri-ciri lain. Penjual pun akan memberikan informasi lengkap apabila di tanya mengenai barang tersebut. Maka bertanyalah, jangan diam. Apabila diam, maka penjual pun akan diam. Menganggap pembeli sudah tahu apa yang akan di beli.

Foto ini saya ambil di stasiun Tebet, pada tanggal 19 Juli 2009. Pedagang VCD musik dan film ini berjualan di sepanjang ruang tunggu untuk penumpang. Jadi tempat jualannya adalah berada pada ruang publik yang sangat terang sekali keberadaannya, yaitu di stasiun kereta. Tetapi karena ini di lakukan di Indonesia, maka di biarkan saja. Saya yakin, di negeri2 barat hal ini tidak akan pernah terjadi, di mana hak cipta sangat di hargai keberadaannya. Mungkin bukan di biarkan begitu saja. Terjadi kompleksitas yang begitu akut sehingga pihak-pihak resmi pun (dalam hal ini pemerintah) sulit untuk meminimalkan pembajakkan ini. Menghilangkannya sepertinya masih sebuah mimpi.

Coba kita bandingkan, misal DVD musik bajakan bisa di dapat dengan harga rp6000. Harga resmi berada di kisaran rp100.000. Perbandingannya adalah 1:16 dari sisi harga, gila besar sekali. Untuk masyarakat dengan pendapatan minim, dan berkeinginan untuk mendapatkan kepuasan juga dari melihat DVD musik, barang bajakan tidak jadi masalah. Tapi bagi para seniman penciptanya, mereka akan menanggis. Yang satu di untungkan, yang satu di rugikan.

alan

Posted by: alan adri | October 5, 2009

Pasar Tumpah Pasar Minggu

Foto ini saya ambil di daerah Pasar Minggu Jakarta Selatan. Jalan ini adalah terusan dari jalan Mangga Besar, yang akhirnya bertemu dengan jalan Pasar Minggunya sendiri yang mengarah ke selatan menuju ke Tanjung Barat hingga Depok. Pada hari biasa, jalan ini begitu ramai dan sibuk. Banyak pedagang kaki lima mencari hidup di jalan ini. Memakai gerobak-gerobak dorong, dengan tiang-tiang setinggi orang dewasa, apabila ingin menjajakan pakaian, atau langsung saja mengelar dagangannya dengan plastik/kain langsung di jalan.

Mulai dari pedagang sayuran, ternak (ayam), buah-buahan, sampai pakaian mencoba menawarkan dagangannya di jalan. Jalan yang seharusnya bisa di pakai 4 mobil berjajar, langsung menyempit hingga cuma 2 berjajar saja. Pedagang-pedagang ini membuat kemacetan yang begitu ruwet, sehingga suasana menjadi begitu kacau. Mobil, motor, sepeda, bajaj, tumplek bleg dengan ramainya pedagang, pembeli dan pejalan kaki. Sangat tidak mengenakkan, untuk berjalan rileks dan santai. Asap knalpot, sampah, menambah suasana menjadi ruwet, dan buram.

Pasar tradisional yang berada di Pasar Minggu sudah tidak bisa menampung lonjakkan pedagang dan pembeli yang datang ke pasar ini. Lahan pasar telah menjadi mall yang meminggirkan pedagang-pedagang kecil yang kemudian meluber ke jalanan. Tumpahan yang begitu besar, akhirnya memenuhi jalan menimbulkan keruwetan tersendiri yang tidak bersolusi. Sudah sering Satpol PP membersihkan sepanjang jalan ini dengan melakukan penggusuran secara paksa. Hanya ini tidak memberikan hasil yang maksimal, yang merupakan solusi permanen. Karena pedagang-pedagang akan tetap datang selesai pembersihan tersebut beberapa hari kemudian. Inilah wajah, pasar tradisional yang terpinggirkan.

IMG_4744

IMG_4556 

IMG_4709

alan    

note : foto di ambil pada tanggal 18 September 2009

Posted by: alan adri | October 5, 2009

Jazz Live Salihara

Hari sabtu, 03 Oktober 2009, tiga musisi gaek Indonesia mempertontonkan kemampuan terbaik mereka di Komunitas Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Mereka tergabung ke dalam grup Jazz Kayon, terdiri dari Indra Lesmana, Pra B.Dharma, dan Gilang Ramadhan.

Rasanya ini adalah pertunjukaan yang teramat langka, dimana 3 musisi yang sudah jarang sekali bermain bareng, akhirnya mampu berkolaborasi secara apik dan memperlihatkan peformansi terbaik mereka. Sebelumnya mereka tergabung dalam sebuah grup populer tahun 80-90an, bernama Krakatau. Kayon adalah sebuah project idealis dari hiruk pikuk genre populer yang rasanya telah melibas kehidupan keseharian. Tanpa sebuah eksplorasi dari tiap individu dan menyatukannya dalam sebuah grup, sebuah komposisi seni akan menjadi sebuah kumpulan kering yang mudah terhempas. Kekeringan yang rupanya di rasakan bagi penikmat bagi seni-seni eksplorasi kini.

Malam itu, ruang pertunjukkan yang berukuran terbatas serasa penuh sesak dengan penonton yang sangat antusias. Tidak seperti biasanya, para penonton meluap, sehingga tempat duduk yang di sediakan tidak cukup untuk menampung. Meluber hingga musti duduk lesehan di depan musisi yang sedang beraksi. Untung saya mendapatkan tempat duduk di atas, bagian tengah. Sehingga semua pertunjukkan di depan dapat saya ikuti secara sempurna. Dengan berakhirnya lagu, langsung kamera saya beraksi untuk mengabadikan mereka. Foto-foto inilah hasil jepretan tersebut.

Selama pertunjukkan saya begitu terhenyak melihat penampilan mereka. Peforma yang begitu unik. Para musisi gaek yang telah menyatukan tiap gerak rasa mereka dengan tiap deting bunyi dari alat musik yang mereka pegang. Kesederhanaan bunyi yang memberikan nuansa yang sempurna. Penyatuan memberikan harmoni sendiri yang begitu memikat. Ekpresi di bukan hanya berbentuk musik yang terdengar. Tubuh mereka mengikuti seirama dengan spontan ekspresi tubuh yang lepas. Tidak bs saya tuliskan detil, terlalu kompleks.

IMG_5381

IMG_5377

IMG_5390

alan

Posted by: alan adri | October 2, 2009

Lebaran Ketupat

IMG_4593

IMG_4568

Hari lebaran tidak akan pernah lepas dari yang namanya ketupat. Makanan tradional sebagai pelengkap kesemarakkan lebaran di tiap tahunnya. Di foto ini seorang bapak sedang merangkai lembar-lembar daun kelapa muda atau janur untuk sebuah ketopong ketupat.

Saya ambil foto ini di Pasar Minggu Jakarta beberapa hari sebelum lebaran tahun 2009.

alan

Posted by: alan adri | October 2, 2009

Pengamen bus kota

IMG_4771

Dua orang pengamen sedang memulai aksinya di sebuah bus bernomor trayek 75, jurusan Pasar Minggu – Blok M. Saya abadikan dengan menahan kamera yang terus bergerak mengikuti gerak bus yang berjalan. Terkadang bus berjalan cepat, terkadang lambat karena tiba-tiba di rem mendadak, dan terkadang juga ngebut tidak terkendali.

IMG_4773

Kedua pengamen ini bernyanyi sambil memperagakan gerak tubuh mereka yang berjoget seirama dengan lagu yang mereka nyantikan. Ini cukup unik, karena biasanya pengamen di Jakarta hanya sekedar bernyanyi dengan alat musik yang mereka bawa.

Penumpang dengan sekadar sukarela memberikan uang. Uang receh 500rp adalah unit terkecil yang biasa mereka berikan kepada para pengamen. Cukup menghibur, di siang hari yang panas waktu itu.  

alan

Posted by: alan adri | October 2, 2009

Sejenak di Taman Ismail Marzuki

Seseorang sedang mengamati buku-buku yang berjejer satu kios di TIM (Taman Ismail Marzuki). TIM adalah salah satu pusat kegiatan kesenian dan kebudayaan di Jakarta.  Bukan hanya itu, di sini berdiri salah satu pusat pendidikan untuk para pelaku seni itu sendiri, yaitu IKJ (Institut Kesenian Jakarta).

 Di TIM berdiri juga Observatorium yang begitu langka rasanya di Indonesia. Sepengetahuan saya, cuma ada satu lagi yang di Boscha Lembang Bandung.   IMG_5111

Older Posts »

Categories